Oleh Jeremy Huang Wijaya

PADA Perdagangan dollar hari ini Jumat 27 Februari 2026 dollar diperdagangkan Rp 16.782 per Dollar AS
Selama tahun 2026 ini dolar naik turun di kisaran 16.500-16.900 perdollar belum turun di bawah 16.500.
Hal ini memberatkan pengusaha.
Tahun kuda api bukanlah tahun yang mudah bagi pengusaha, banyaknya tantangan global yang harus dihadapi di tahun kuda api ini.
Jeremy Huang Wijaya Mengadakan Diskusi Ekonomi di HIMAS Coffe Cirebon kemarin.
Dennis Firmansyah dan Prof Dr Rokhmin Dahuri menjadi pembicara.
Dalam pertemuan di HIMAS Coffe Cirebon kemarin
Gani Suyanto pengusaha senior di kota Cirebon mengharapkan pemerintah dapat menemani dan menolong pengusaha untuk dapat keluar dari Krisis yang terjadi saat ini
Seperti pengurangan pajak, dan subsidi bahan mentah untuk produksi suatu barang.
Pertemuan diskusi ini menjadi ruang silaturahmi dan refleksi bersama atas ketidakpastian ekonomi yang semakin terasa, terutama bagi pelaku UMKM dan sektor riil.

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa dinamika global saat ini dipenuhi ketegangan geopolitik, perang dagang, triple ecological crisis, serta disrupsi teknologi industri 4.0 yang membuat arah ekonomi dunia tidak stabil. Indonesia memiliki potensi besar, namun daya saing masih tertinggal yang tercermin dari pendapatan per kapita sekitar 4.900 dolar AS per tahun, jauh dari standar negara maju di atas 14.000 dolar AS. Di saat pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan di kisaran 5 persen, Prof. menekankan perlunya lompatan pertumbuhan agar Indonesia dapat naik kelas, dengan target sekitar 7 persen pada 2028 dan 8 persen pada 2029. Diskusi juga diisi paparan Bapak Dennis Firmansjah (Presiden Komisaris, PT Aditama Finance) mengenai kunci sukses 2026 melalui prinsip FAITH, serta masukan peserta terkait tantangan bisnis, transparansi pengelolaan keuangan negara, dan pentingnya menjaga kredibilitas untuk memperkuat akses pembiayaan.

Menanggapi berbagai pandangan, Prof. Rokhmin memaparkan strategi jangka pendek yang harus segera dijalankan.

  • Pertama, mempertahankan industri dan unit usaha yang sudah ada agar tidak gulung tikar atau menurunkan produksi, melalui skema subsidi, capacity building, dan stimulus yang tepat sasaran.
  • Kedua, mendorong pengembangan sektor ekonomi baru dan industri baru seperti Blue Economy, Green Economy, serta ekonomi digital berbasis Industry 4.0 sebagai sumber pertumbuhan masa depan.
  • Ketiga, meningkatkan produktivitas nasional sekaligus menyediakan lapangan kerja yang layak dan mensejahterakan, karena daya beli masyarakat hanya akan naik jika penghasilannya meningkat.

Pesan penutup dari Prof. Rokhmin Dahuri, yaitu ekonomi tidak boleh berjalan di tempat. Industri harus bertahan dan tumbuh, sektor baru harus lahir, dan rakyat harus mendapatkan pekerjaan yang bermartabat. Dengan komunikasi yang jujur, tata kelola yang rapi, serta kolaborasi lintas elemen, Cirebon dan Indonesia dapat memperkuat fondasi menuju kemandirian ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. (Arif/CIBA)