MAJALENGKA.- OJK Cirebon menggelar Media Update periode Triwulan III tahun 2025 dengan tema Bincang Asik Seputar Jasa Keuangan (BANCAKAN) bersama jurnalis Ciayumajakuning, di Situ Cipanten, Desa Gunung Kuning, Kabupaten Majalengka, Sabtu (22/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya OJK Cirebon untuk memberikan update informasi terkini kondisi sektor jasa keuangan pada periode triwulan III tahun 2025 di wilayah Ciayumajakuning sekaligus melihat progres program Desa Ekosistem Inklusif (EKI) di Desa Gunung Kuning.
“OJK Cirebon menilai stabilitas sektor jasa keuangan Ciayumajakuning per Triwulan III Tahun 2025 sampai dengan periode pertengahan Triwulan IV Tahun 2025 dalam kondisi stabil dengan fungsi intermediasi yang cukup baik,” kata Kepala OJK Cirebon, Agus Munthalib dalam paparannya.
Sektor Perbankan (Bank Perekonomian Rakyat/BPR)
Menurut Agus, kinerja 18 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Ciayumajakuning per September 2025 mengalami pertumbuhan positif baik secara yoy, ytd, maupun mtm yang tercermin dari beberapa indikator.
Penyaluran kredit sampai dengan September 2025 secara yoy dan ytd mengalami apresiasi masing-masing sebesar 0,80 persen dan 4,05 persen menjadi Rp2,08 triliun.
Pertumbuhan penyaluran kredit diiringi dengan penurunan porsi kredit macet yang ditunjukkan oleh rasio NPL, secara yoy dan ytd rasio NPL mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,08 persen dan 1,98 persen.
Pertumbuhan aset pada September 2025 secara yoy dan ytd mengalami apresiasi sebesar 0,18 persen dan 0,35 persen menjadi Rp2,7 triliun.
Tidak hanya aset, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh BPR menunjukkan pertumbuhan positif baik secara yoy maupun ytd masing-masing sebesar 11,81 persen dan 12,73 persen.
Sampai dengan September 2025, penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp2,46 triliun.
Dari sisi rentabilitas, per September 2025, BPR berhasil meningkatkan rasio ROA sebesar 2,34 persen sehingga secara yoy dan ytd terjadi apresiasi sebesar 4,81 persen dan 4,54 persen.
Sejalan dengan penurunan rasio BOPO yang menunjukkan efisiensi biaya operasional BPR, terjadi penurunan BOPO secara yoy sebesar 35,04 persen menjadi 84,90 persen.
Indikator positif lainnya tercermin dari permodalan BPR yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) yang masih terjaga sebesar 19,04 persen.
“OJK Cirebon terus mendorong dan melakukan monitoring penerapan POJK Nomor 12 Tahun 2024 tentang Penerapan Strategi Anti-Fraud bagi Lembaga Jasa Keuangan di seluruh BPR yang berada di bawah pengawasan Kantor OJK Cirebon,” katanya.
Kinerja Industri Keuangan Non Bank (IKNB)
Terdapat 8 Lembaga Keuangan Mikro/Syariah (LKM/S) dan 2 Perusahaan Pergadaian yang termasuk sektor IKNB dan menjadi objek pengawasan OJK Cirebon.
Kinerja LKM di Ciayumajakuning per September 2025 mengalami kontraksi secara yoy pada beberapa indikator yaitu aset kontraksi sebesar 4,30 persen yoy menjadi Rp20,39 miliar, pinjaman yang disalurkan kontraksi sebesar 7,61 persen yoy menjadi Rp18,11 miliar, dan penghimpunan DPK kontraksi sebesar 1,95 persen yoy menjadi Rp13,2 miliar.
Kinerja LKMS secara yoy mengalami apresiasi yang tercermin dari beberapa indikator yaitu aset meningkat sebesar 5,26 persen yoy menjadi Rp37,91 miliar, pembiayaan yang disalurkan meningkat sebesar 12,40 persen menjadi Rp16,25 miliar, penghimpunan DPK meningkat sebesar 0,35 persen menjadi Rp21,27 miliar.
Kinerja Perusahaan Pegadaian (gadai swasta) per September 2025 tetap terjaga baik secara yoy maupun ytd. Aset mengalami apresiasi sebesar 31,45 persen yoy menjadi Rp4,7 miliar.
Namun, pinjaman yang disalurkan mengalami kontraksi sebesar 48,69 persen yoy menjadi Rp473,9 juta.
Kinerja Pasar Modal
Agus menambahkan, kinerja pasar modal wilayah Ciayumajakuning per Agustus 2025 menunjukkan pertumbuhan positif. Jumlah investor pasar modal yang ditunjukkan oleh jumlah Single Investor Identification (SID) juga meningkat menjadi 368,58 ribu, atau tumbuh 21,69 persen yoy.
Pada periode yang sama, akumulasi transaksi saham di Ciayumajakuning mencapai Rp2,06 triliun, meningkat 68,31 persen yoy.
“Seluruh peningkatan indikator tersebut mencerminkan tingkat literasi masyarakat terhadap sektor pasar modal mengalami peningkatan yang disertai dengan peningkatan optimisme masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal,” tutup Agus. (Arif/CIBA)
